Dunia
Pemilu Memanas
Evakuasi disiapkan baik darat, udara, dan laut, melalui dermaga milik Pertamina.
Kamis, 8 Maret 2012, 16:18 WIB
Elin Yunita Kristanti, Jemris Fointuna (Kupang)
Kampanye calon presiden Timor Leste (REUTERS/Lirio Da Fonseca)
Di tengah situasi yang kian tak menentu, sejumlah warga negara asing, khususnya keluarga para diplomat dilaporkan mulai meninggalkan Timor Leste. Hal ini dikatakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Timor Leste, Eddy Setiabudhi pada Pertemuan Koordinasi Perbatasan RI-Republik Demokratik Timor Leste di Kupang, Kamis 8 Maret 2012.
Menurut Eddy, warga negara asing yang mulai meninggalkan Timor Leste yakni istri para diplomat kedutaan besar asing. “Mereka khawatir keamanan di negara itu memburuk jelang dan pasca pemilu presiden. Ibu-ibu itu katanya mau cuti dulu untuk pulang ke negara mereka. Kalau pemilu aman baru mereka kembali," kata Setiabudhi.
Termasuk, sejumlah isteri diplomat asing di Timor Leste yang selama ini mempelajari kebudayaan dan musik tradisional Indonesia di KBRI seperti angklung dan tarian tradisional.
Kekhawatiran makin menguat, sebab pada pemilu sebelumnya, Presiden Ramos Horta nyaris terbunuh dalam sebuah insiden. “Mereka juga takut jangan sampai bentrokan antara tentara dan polisi beberapa waktu lalu di RS Dili yang mengakibatkan dua orang terluka terulang kembali,” katanya.
Ditambah lagi, ada dua Insiden terbaru yakni pelemparan bom molotov cocktail terhadap dua kantor penyelenggara pemilu Timor Leste pada 20 Februari lalu, yakni kantor Komisi Pemilihan Nasional (National Election Commission-CNE) dan The Technical Secretariat for the Administration of Election-STAE). Meski, peristiwa itu tidak menimbulkan jiwa maupun luka.
Pertemuan koordinasi tersebut dihadiri Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Esthon Foenay, Komandan Korem 161 Wirasakti Kolonel Edison Napitupulu dan sejumlah pejabat militer di Kupang. Rapat membahas kemungkinan Pemilihan Umum Timor berakhir rusuh serta strategi evakuasi warga negara Indonesia (WNI).
“Apabila situasi chaos, KBRI telah menyiapkan sejumlah titik evakuasi WNI antara lain di Pertamina Dili dan lokasi lain di setiap distrik. Jika evakuasi dilakukan lewat laut, dermaga milik Pertamina sangat cocok untuk tempat evakuasi. Lokasi lainnya melalui bandara bila evakuasi dilakukan lewat udara menggunakan pesawat Hercules milik TNI,” ujarnya.
Ditambahkan, evakuasi melalui jalur laut, jarak Dili-Kupang dapat ditempuh antara 8-9 jam. “Jumlah WNI di Timor Leste sebanyak 5.774 orang dewasa, 859 balita, 14 bidan, dan 493 orang yang menikah dengan WNA. Sebanyak 400 WNI lainnya yang belum mendaftarkan diri ke KBRI,” katanya. Apabila keadaan terus memburuk, menurut Setiabudhi, KBRI telah menyiapkan sejumlah nomor kontak yang dapat dihubungi setiap saat.
Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay mengatakan, pemerintah memantau situasi yang terjadi dibekas provinsi ke-27 Indonesia tersebut. “Pemerintah NTT berharap, Departemen Luar Negeri dapat menyiagakan sebuah tim di Kupang, sehingga apabila situasi darurat dan membutuhkan evaluasi maka dapat dilakukan dengan cepat,” katanya.
Sementara Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kolonel Infanteri Edison Napitupulu mengatakan, pengamanan diperbatasan sesuai standar operasional. “Tidak ada pengamanan khusus,” katanya. (umi)
• VIVAnews


No comments:
Post a Comment