Akibat Rusuh Ilaga, Sekolah Libur Dua Bulan
Suasana Ilaga masih mencekam. Murid sekolah mengaku ikut orang tuanya 'perang'.
Rabu, 5 Oktober 2011, 16:09 WIB
Elin Yunita Kristanti
Mobil yang dibakar massa di Ilaga, Puncak, Papua (Antara/ Spedy Paereng)
Suasana Ilaga ibukota Kabupaten Puncak, yang berada di tengah hutan Pegunungan Papua, sampai saat ini mencekam. Warga yang melintas, terlihat membawa alat-alat perang seperti, panah, tombak dan parang. Bahkan, anak-anak juga ikut membawa senjata perang.
Sejumlah sekolah baik SD, SMP dan sekolah lanjutan terlihat lengang, saat aktivitas sekolah mestinya berlangsung. Sama sekali tidak ada siswa maupun guru yang terlihat.
Konflik antar dua kelompok, terjadi sejak Juli lalu, dipicu dari proses Pemilukada yang sedang berlangsung. Korban tewas mencapai 21 orang, sedangkan ratusan lainnya luka-luka.
Salah seorang siswa Kelas 2 SD Ilaga bernama Yokim, mengaku, ia sudah dua bulan tidak masuk sekolah, karena konflik yang berkepanjangan. "Saya dengan teman-teman sudah dua bulan ini tidak masuk sekolah. Kadang-kadang kami ikut orang tua berperang," tandasnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Puncak, Usai Alom mengakui, seluruh sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas, tidak ada aktivitas. "Sesuai adat disini, apabila terjadi perang antar kelompok, bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa berdamai," paparnya.
Tambahnya, ada sebanyak 18 sekolah dan ratusan siswa serta puluhan guru, tidak melakukan aktifitas belajar mengajar, selama perang mulai
meletus. "Sebagian besar memilih meninggalkan Ilaga, karena takut, akibat konflik yang berkepanjangan," jelasnya. (eh)
Laporan: Banjir Ambarita| Papua
• VIVAnews


No comments:
Post a Comment